Home » » Pemberian Obat Antibiotika Pada Ibu Hamil

Pemberian Obat Antibiotika Pada Ibu Hamil

Written By Teguh Iw on Rabu, 09 Mei 2012 | 16.56

Obat,Ibu Hamil


Kehamilan merupakan saat yang krusial dari sisi medis. Sebab pada wanita hamil terdapat janin yang sedang mengalami pertumbuhan. Proses pertumbuhan janin sangat diperngaruhi oleh zat apa yang dimakan ibu. Dalam hal ini, obat-obatan juga memounyai pengaruh terhadap janin. Namun selama kehamilan, tidak selalu ibu dalam keadaan sehat. Ketika sakit, pemberian obat-obatan sering tak terhindarkan. Salah satu obat yang sering diberikan adalah antibiotik.

Untuk memberikan obat antibiotika pada wanita hamil harus benar-benar dipertimbangkan antara manfaat dan kerugiannya. Pertama-tama harus dilihat dan diperhatikan frekuensi anomali janin. Diantara berbagai antibiotika, hanya beberapa kelas yang merugikan jika digunakan selama kehamilan. Tapi, pengetahuan tentang sebagian besar antibiotika masih terbatas. Ini bisa dilihat dari  peringatan yang dicantumkan oleh produsen antibiotika, untuk tidak memberikan obat saat hamil, terutama pada trisemester pertama.

Kategori Obat Antibiotika Terhadap Kehamilan


Hanya sedikit data yang tersedia mengenai kemanan obat antibiotika terhadap janin. The US Food and Drug Administration (FDA) telah mengelompokkan semua antibiotika berdasarkan risiko penggunaannya pada wanita hamil. Kategori tersebut adalah sbb:
  • Kategori A: Studi pada wanita hamil tidak menunjukkan adanya risiko pada ibu dan fetus. Hanya sedikit obat yang masuk kelompok ini, diantaranya adalah Nystatin vaginal (Mycostatin)
  • Kategori B: Meskipun studi hewan percobaan menunjukkan tidak ada risiko, namun studi pada manusia tidak adekuat atau studi pada hewan mencatat ada toksisitas tapi studi pada manusia tidak menunjukkan adanya risiko.
  • Kategori C: Studi pada hewan menunjukkan toksisitas tapi studi pada manusia tidak adekuat
  • Kategori D: Ada bukti berisiko pada manusia
  • Kategori X: Ada laporan menyebabkan abnormalitas fetus pada manusia.
Untuk semua kelas obat, manfaat penggunaan antibiotika harus lebih besar dari risikonya.

Obat Antibiotika yang Harus Dihindari Saat Hamil



Saat ini telah terbukti bahwa beberapa senyawa antibiotika yang terdapat dalam darah ibu sanggup melintasi plasenta. Hal ini tergantung pada metabolisme obat dan faktor lainnya semisal gradien konsentrasi, lipofilisitas, ukuran molekul, dan efek pengikatan. Tapi sayangnya, seperti disebutkan diatas, informasi farmakokinetika sebagian besar  antibiotika dalam unit maternal fetal adalah tidak lengkap atau terpisah-pisah. Meski demikian, ada beberapa kelompok antibiotika yang sebaiknya dihindari diberikan pada wanita hamil. Diantaranya adalah amiglikosida, antimikotik, 5-nitroimidazol, polimiksin, tetrasiklin, dan vankomisin.

Pada orang dewasa, efek samping utama aminoglikosida adalah ototoksisitas dan kerusakan ginjal. Aminoglikosida mampu melalui plasenta dan konsentrasinya dalam cairan amniotik berkisar sekitar 30-40% dari konsentrasi rata-rata dalam darah ibu. Beberapa kerusakan parah intrauterine otological damage telah dilaporkan setelah pemberian aminoglikosida pada ibu. Selain itu juga ada risiko nefrotoksisitas pada fetus, meskipun belum ada bukti kasus yang telah dipublikasikan. Efek lainnya yaitu tumor yang diinduksi oleh aminoglikosida hingga masih belum diketahui.

Aminoglikosida masuk dalam kategori D. Bila digunakan pada keadaan hipomagnesemia atau terkait dengan penghambat kanal kalsium, aminoglikosida bisa menyebabkan blokade neuromuskular. Sejauh ini, streptomisin dan kanamisin adalah obat dari kelas ini yang dilaporkan toksik, yang dikaitkan dengan ketulian kongenital. Sementara gentamisin (kategori C) tidak dikaitkan dengan abnormalitas kongenital, termasuk tuli.

Sebagian besar antimikotik tampak memiliki potensial besar menimbulkan efek samping pada orang dewasa, termasuk pada sistem saraf, darah, dan ginjal. Toksisitas umum ini mengarahkan rekomendasi untuk tidak memberikan antimikotik selama hamil. Tergantung  asal senyawa antimikotik, studi pada hewan percobaan menunjukkan terjadi hepatoma, efek mutagenitas atau teratogenitas. Pada manusia, asupan griseopulvin selama hamil mengarah pada pengamatan aborsi dan malformasi.

Sementara 5-nitroimidazol umumnya bisa ditoleransi dengan baik. Peringatan untuk sebaiknya tidak diberikan selama hamil datang dari hasil meningkatnya mutasi in vitro pada bakteri. Pada beberapa hewan percobaan, efek tumor yang diinduksi ( limfoma maligna, kanker paru, karsinoma hati, dan mammary tumor) bisa terlihat. Bukti adanya malformasi fetus pada hewan percobaan dan manusia belum pernah dilaporkan.

Salah satu studi restrospektif menemukan tidak efek samping terkait dengan penggunaan polimiksin B selama kehamilan. Tapi data ini tidak cukup mengatakan bahwa obat ini aman digunakan selama hamil. Pada beberapa cara, efek samping obat ini hampir sama dengan kelompok aminoglikosida. Diantaranya nefrotoksisitas hingga gagal ginjal akut dan neurotoksisitas, yakni blokade neuromuskular dan ataksia, pusing, konvulsi.

Penggunaan tetrasiklin (kategori D) telah didentifikasi berefek bagi keduanya, ibu dan fetus. Ibu hamil bisa mengalami nekrosis lemak akut pada hati, pankreasitis, dan kerusakan ginjal. Pada fetus, obat ini bisa menyebabkan penghambat pertumbuhan, pewarnaan gigi, dan hipoplasia enamel gigi. Meskipun tetrasiklin tidak terbukti menganggu pada trisemester pertama atau pada dosis kecil, tapi penggunaan obat ini sangat baik dihindari.

Share this article :

1 komentar:

  1. Terimakasih Infonya
    artikel yang bagus,
    sangat bermanfaat..
    Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Kedokteran di UII Yogyakarta
    :)
    twitter : @profiluii :)

    BalasHapus

Popular Posts

Pengikut

 
Support : opyright © 2013. Obat dan Kesehatan - All Rights Reserved