Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Obat Tidur….ya untuk tidur….

Pernahkan suatu saat anda ingin tidur tapi mata tak mau terpejam? Menyebalkan ya.. Waktu terasa sangat lambat dan begitu membosankan. Paginya? Rasa lelah tak mau hilang dan saat perlu konsentrasi tinggi untuk kerja, rasa kantuk meyerang. Kacaulah semuanya.
Insomnia, istilah medis untuk susah tidur, ternyata merupakan kondisi medik yang banyak ditemui. Dari yang ringan hingga yang kronis. Sayangnya, kondisi ini jarang tertangani sejak dini. Penyebabnya tenaga medis jarang menanyakan kualitas tidur pasien dan sebaliknya pasien juga jarang melaporkan ganngguan tidur yang dialaminya. Selain itu ada anggapan bahwa insomnia tidak menimbulkan gangguan fisik dan kejiwaan sehingga tidak perlu pengobatan. Nah ini anggapan yang keliru.
Gangguan tidur, dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu insomnia transien (intermiten) dan kronik. Insomnia transien dapat berlangsung beberapa hari dan penyebabnya diketahui seperti kondisi medik akut, perubahan lingkungan, stresor (misalnya tekanan kerja) dan obat-obatan. Insomnia ini lebih mudah diatasi karena penyebabnya yang cukup jelas. Insomnia kronik terjadi karena tidak adekuatnya kualitas dan kuantitas tidur dan menetap paling tidak selama satu bulan. Untuk insomnia jenis ini, berbagai faktor terlibat, termasuk masalah psikiatrik, sehingga penyebabnya perlu ditelusuri dengan cermat.
Dampak insomnia bagi penderitanya adalah penurunan kualitas hidup. Insomnia dikaitkan dengan insidens nyeri rheumatik, absensi kerja, kecelakaan dan penurunan produktifitas. Tingkat kunjungan ke fasilitas kesehatan penderita insomnia juga lebih tinggi dibanding normal. Artinya penderita gangguan tidur ini lebih rentan sakit.
Pada gangguan psikiatrik (kejiwaan), juga terdapat hubungan dengan insomnia. Sekitar 40% terdapat komorbiditas dengan insomnia. Resiko depresi dan anxietas (kecemasan) meningkat seiring dengan peningkatan gangguan tidur. Insomnia dapat menjadi prediktor dalam menilai keadaan fisik dan emosi. Penderita insomnia lebih sering mengalami depresi dibanding normal. Selain itu insomnia dapat dipandang sebagai bagian dari depresi atau gejala sub klinik depresi.
Penanganan insomnia dapat dilakukan melalui 2 metode, yaitu farmakoterapi (dengan obat) dan non farmakoterapi (tanpa obat). Namun, karena panangan non farmakoterapi dinilai lambat, maka penanganan farmakoterapi dainggap lebih efektif.
Obat yang digunakan untuk insomnia merupakan obat-obat psikotropik (obat tidur, obat penenang). Obat-obat golongan ini mempunyai efek psikis, sehingga harus digunakan dengan hati-hati. Penyalahgunaan obat-obat ini cukup tinggi, sehingga peredarannya diawasi dengan cukup ketat.
Zat-zat yang mempengaruhi tidur telah banyak diketahui. Dari obat-obat herbal, seperti valerian hingga opium. Juga alkohol dan morphin. Namun efek yang ditimbulkannya, berupa toleransi dan ketergantungan, membuat penggunaan zat-zat ini dilarang, terutama zat-zat dari opium dan morphin. Diawal abad 20, obat insomnia yang digunakan adalah golongan barbiturat (luminal). Meski obat ini mampu menginduksi tidur, namun efek toleransi dan gejala putus obat masih tetap ada. Kemudian terapi insomnia beralih ke obat golongan benzodiazepin; yaitu klordiazepoksid (Librium), diazepam (Valium, Stesolid, Valisanbe) dan turunannya, yaitu alprazolam (Zypraz, Xanax, Frixitas), klonazepam (Rivotril) dan lorazepam (Ativan, Renaquil). Obat golongan benzodiazepin yang baru ini mempunyai kerja yang lebih cepat dan panjang. Meski demikian, efek toleransi, gejala putus obat dan gangguan memori masih tetap ada.
Obat anti ansietas (anti kecemasan) juga sering digunakan untuk mengatasi insomnia. Hal ini didasarkan pada analisa bahwa insomnia merupakan bagian dari depresi dan kecemasan, sehingga obat anti ansietas juga dapat digunakan untuk mengatasi insomnia. Antidepresan trisiklik, seperti amitriptylin (Mutabon, Limbritol), digunakan untuk insomnia karena kemampuannya memperbaiki mood, mengatasi depresi dan memperbaiki pola tidur.
Karena obat insomnia mempengaruhi psikis, maka kemungkinan penyalahgunaan sangat besar. Karena itu penggunaan obat-obat ini harus diawasi dengan ketat. Ingat, obat tidur ya untuk tidur....bukan yang lain.
Selain dengan cara obat-obatan, insomnia juga dapat diatasi dengan cara non farmakoterapi; yaitu memperbaiki higiene tidur, relaksasi dan menghindari kebiasaan yang dapat mengganggu tidur, seperti minum kopi, membaca sebelum tidur dan hidari kegiatan fisik sebelum tidur. Tempat tidur yang bersih, nyaman dan tenang akan sangat membantu. Hindari suara-suara berisik dan gaduh. Selanjutnya... selamat tidur dan mimpi indah.

Comments :

0 komentar to “Obat Tidur….ya untuk tidur….”

Poskan Komentar